Ibu Konvensional Vs Ibu Modern


Ibu Konvensional Vs Ibu Modern


Oleh: Sri Wahyuni

Bulan Desember identik dengan ibu. Sebab di bulan inilah Hari Ibu diperingati setiap tahunnya. Sejak tahun 1928, 22 Desember dirayakan jutaan orang sebagai Hari Ibu. Peringatan Hari Ibu mengingatkan penulis akan dua kata yang tidak asing lagi bagi kita, yaitu konvensional dan modern. Kedua kata tersebut memiliki makna yang berlawanan. Konvensional identik dengan zaman dahulu, sedangkan modern identik dengan zaman sekarang atau hal-hal yang baru. Dua kata itu oleh penulis digabungkan dengan kata ibu, sehingga menjadi ibu konvensional dan ibu modern. Apa perbedaannya? Hal itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini.
Peringatan Hari Ibu menyadarkan kita tentang betapa besarnya peran ibu. Mulai dari mengandung, melahirkan, merawat, mendidik, dan membesarkan kita. Maka tidak salah jika ibu disebut sebagai perempuan yang mulia dan patut untuk dihormati. Bahkan Rasulullah SAW ketika ditanya oleh sahabatnya, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus kita berbakti?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian Ayahmu.”

Jawaban Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa orang yang harus kita hormati adalah ibu kemudian Ayah. Pertanyaannya, mengapa ibu lebih diutamakan dari pada Ayah? Karena perjuangan ibu lebih besar dibanding Ayah. Ibu mengandung kita selama sembilan bulan. Dalam kurun waktu itu, semuannya tidak ada yang berjalan dengan nyaman dan tenang, pasti diiringi dengan rasa sakit dan cemas.

Kemudian, ketika melahirkan rasa sakit yang dirasakan oleh ibu menjadi berlipat ganda. Ibu konvensional biasanya melahirkan tanpa bantuan bidan atau dokter, melainkan dukun. Hal itu sudah menjadi kebiasaan orang zaman dahulu. Nyawa menjadi taruhan, antara hidup dan mati. Ibu mengerahkan seluruh tenaganya agar kita bisa melihat indahnya dunia. Ketika suara tangisan menembus telingannya, ibu tersenyum senang walau sebenarnya ia menahan sakit yang luar biasa.

Pengorbanan ibu tidak berhenti sampai di sini. Setelah kita lahir ke dunia tugas ibu justru bertambah, yaitu merawat kita. Siang malam ibu selalu menggendong kita, memberikan ASI-nya, dan merawat kita dengan kasih sayang dan kesabaran. Ketika tengah malam, ibu sedang yang nyenyak tidur, tiba-tiba harus terbangun karena mendengar suara tangisan kita. Apakah ibu marah? Tidak, beliau bangun menghampiri kita dengan tersenyum,  dan berkata, “Kenapa kamu menangis sayang? Berhentilah, ibu akan selalu di sampingmu Nak.” Ibu menggedong hingga kita tidur kembali.

Ketika memasuki masa anak-anak, ibu mengajari kita tentang berbagai hal. Mendidik kita membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan memberitahu mana yang baik dan tidak. Tidak jarang ibu marah karena kita melakukan sesuatu yang tidak disukainya, misalnya bermaian tak kenal waktu. Namun, semua itu dilakukan demi kebaikan kita. Malam hari, ibu dengan setianya menemani kita belajar hingga usai. Ketika mata sudah tak sanggup menahan kantuk, beliau mengantarkan kita menuju tempat peraduan. Kemudian beliau mengiringi tidur kita dengan dongeng yang menarik, sesekali ia menyanyikan lagu.

Ibu konvensional tidak pernah lelah menasehati dan mendidik. Bahkan hingga kita menginjak usia remaja ibu selalu mengamati pertumbuhan, mengawasi gerak-gerik, kadang juga membatasi pergaulan kita. Dan ketika kita sekolah  di luar kota, pesan beliau hanya satu, hati-hati dan jaga diri baik-baik. Hampir setiap hari menelphon kita. Katanya itu adalah caranya menjaga kita saat jauh.

Namun, di zaman yang modern ini hal-hal semacam itu merupakan kejadian yang langka. Ibu-ibu sekarang telah kehilangan sifat keibuannya. Eric Fromm dalam bukunya The Art of Loving, menyatakan orang modern terasing dari dirinya sendiri, sesamanya, dan dari alam. Salah satu orang modern adalah ibu.

Ibu modern telah kehilangan sifat keibuannya. Mereka mau diubah menjadi komoditas dan menganggap kekuatan hidupnya sebagai investasi yang harus membawa keuntungan sebanyak-banyaknya bagi dirinya. Yang dipikirkan dan diusahakan hanya keadilan bagi diri sendiri, efisiensi, pemenuhan kebutuhan sendiri, kesenangan, dan individualisme.

Mereka memang berpredikat ibu, tetapi mereka tidak memahami arti penting dan indahnya  sifat-sifat keibuan, seperti sabar melindungi, kasih sayang, ketulusan dalam memberi, kesetiaan total tanpa pernah merasa kehilangan dirinya saat mencintai orang lain. Ketika melahirkan mereka tidak mau merasakan sakit, sehingga obat bius menjadi pilihannya. Dengan obat tersebut menjadi tidak sadar dan tidak akan merasakan bagaimana sakitnya melahirkan. Tidak hanya itu, setelah anaknya lahir, ibu modern tidak mau repot-repot untuk mengurus anaknya, walaupun sekadar menyusui. Ia memilih baby sister untuk mengasuh anaknya, sementara ia asyik dengan dunianya. Hal itu terjadi dalam kurun waktu yang relatif  lama.

Ketika memasuki usia SD, ibu modern membiarkan anaknya diasuh oleh gadget dan televisi. Mereka tidak peduli apa yang dilakukan anaknya. Yang penting bagi mereka, anaknya diam dan tidak mengganggu aktivitasnya. Anak tidak lagi mengenal budaya mendongeng sebelum tidur. Budaya tersebut sudah tergantikan oleh budaya melihat televisi. Ibu modern membiarkan anaknya menonton sinetron yang mereka sukai, meskipun tontonan tersebut belum sesuai dengan usia mereka. Ketika anak sudah menginjak waktu untuk sekolah di luar kota, yang lancar mengalir bukan komunikasi tetapi uangnya. Bagi ibu modern, uang adalah wujud kasih sayang pada anaknya.

Menumbuhkan sifat keibuan

Menumbuhkan sifat keibuan memang bukan hal yang mudah, apalagi bagi kaum Ibu yang asyik dengan dunia mereka sendiri. Namun, perlu kita sadari, cita-cita luhur perempuan tak cukup memperjuangkan anaknya, tetapi juga harus memperjuangkan nilai-nilai keibuan yang sudah sejak lama ditinggalkan. Zaman boleh modern, tapi seorang ibu harus tetap memiliki jiwa konvensional, seperti sabar melindungi, kasih sayang, ketulusan dalam memberi, kesetiaan total tanpa pernah merasa kehilangan dirinya saat mencintai orang lain.

Semoga di bulan akhir 2017 ini yang identik dengan Hari Ibu ini dapat menjadi refleksi untuk kita semua khususnya para Ibu. Semoga!
***

Penulis adalah Mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
PGRI Ponorogo. 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Ibu Konvensional Vs Ibu Modern"

Posting Komentar